REOG KENDANG TULUNGAGUNG


Jika ditanya mengenai apa kesenian khas Tulungagung? pasti sebagian besar dari orang Tulungagung akan menjawab reog kendang. Kesenian ini sudah melanglang buana di kancah nasional maupun internasional. Keberadaannya pun sudah menjadi salah satu ikon kesenian Kabupaten Tulungagung. Sejak jaman kolonial Hindia Belanda kesenian ini digunakan untuk memeriahkan berbagai acara, misalnya peringatan jubileum Ratu Wilhelmina hingga kini digunakan untuk memeriahkan hari jadi Kabupaten Tulungagung, peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia, dan lain-lain.

Sumber foto : osc.medcom.id

Reog Kendang merupakan ikon budaya Kabupaten Tulungagung yang berbentuk gubahan tari rakyat serta dimainkan oleh enam orang penari yang masing-masing membawa dhodhog atau sejenis gendang yang hanya memiliki lapisan kulit pada salah satu sisi saja. Terdapat dua versi legenda tentang asal-usul adanya reog kendang. Versi pertama menyatakan bahwa reog kendang menggambarkan arak-arakan pasukan Kedhirilaya saat mengiringi Dewi Kilisuci ke Gunung Kelud untuk menyaksikan secara dekat pekerjaan Jathasura apakah sudah memenuhi syarat pasanggiri atau belum. Pasukan tersebut diwakili oleh keenam penari. Versi kedua adalah kisah penolakan Dewi Kilisuci terhadap lamaran seorang Raja Bugis. 

Kisah yang ingin disampaikan oleh tarian ini adalah sulitnya perjalanan yang ditempuh oleh para prajurit dengan membawa perbekalan yang berat hingga terseok-seok dan terbungkuk-bungkuk untuk menuruni lembah-lembah yang curam serta menaiki gunung-gunung yang terjal. Kemudian setelah sampai di puncak gunung mereka mengelilingi kawah sambil melongok-longok ke dalam ketika ‘sang puteri’ terjatuh ke kawah yang disusul dengan pelemparan batu dan tanah membuat Jathasura yang terjun menolong ikut terkubur dalam kawah, hingga akhirnya tercapailah kegembiraan oleh kemenangan.

Kisah tersebut disimbolkan menjadi tarian yang ekspresif dengan berbagai gerakan yang indah dengan memadukan langkah kaki yang serentak dalam berbagai variasi, gerakan bahu, tubuh, leher, dan kepala yang disertai ekspresi wajah serius,sedangkan kedua tangan sibuk memainkan dhodhog yang dipegang dan diikat dengan selendang menyeberang melalui bahu kanan. Gerakan yang dilakukan dalam reog kendang terdiri dari beberapa jenis yaitu gerak baris, gerak sundangan, gerak andul, gerak menthokan, gerak gedjoh bumi, gerak ngongak sumur, gerak midak kecik, gerak lilingan, gerak kejang dan gerak bari

Terdapat beberapa alat musik yang menjadi instrumen pengiring tarian reog kendang. Pertama, terdapat enam instrumen dhodhog yang dimainkan oleh keenam penari. Menurut fungsinya, dhodhog tersebut terbagi menjadi beberapa macam, yaitu dhogdhog kerep, dhodhog arang, timbang-timbangan atau imbalan, keplak, trentheng, dan satu lagi yang dipukul menggunakan tongkat kecil yang disebut truthong. Kedua terdapat kenong dan kempul yang berfungsi sebagai pengiring dan penjelas ritme. Ketiga adalah selompret yang berfungsi untuk menciptakan melodi lagu untuk memperjelas ragam gerak.


By : Anisa Fitri E

Referensi:

Nugraheni, Wiga. dkk. (2020). The existence of Kendang Reog Art in Postmodernism. Education and Humanities Research, 444.

Nugraheni, Wiga. (2018). Penanaman Nilai-Nilai Moral Melalui Kesenian Reog Kendang Terhadap Pelajar di Kabupaten Tulungagung. Imaji, 16(2), 162-171.

Tim Pustaka Jawatimuran. (2012, Oktober 24). Reog Tulungagung. Pusaka Jawatimuran, Dinas Perpustakaan dan Arsip Jawa Timur. Tersedia dalam : https://jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id/2012/10/24/reog-tulungagung/


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PESONA PANTAI PACAR TULUNGAGUNG

WELCOME PARTY DAN RAPAT KERJA FORMASTA SURABAYA : KABINET TANGGAP 2021